Kamis, 27 September 2012

Menyusuri Setapak Nusantara

Setelah menikah nanti, aku ingin menyusuri setapak demi setapak penjuru nusantara berdua denganmu. Lalu aku akan menulisnya biar semua orang bisa baca.
"Calon Suami Hebat"

Rabu, 26 September 2012

Ini Judulnya Cita-Cita Saya

Berbicara mengenai cita-cita akan muncul banyak profesi yang sederhana sampai profesi yang waaah. Mulai dari penghasilan yang habis dimakan sebulan sampai penghasilan yang ttidak habis dimakan tujuh turunan. Intinya cita-cita itu adalah keinginan. Itu menurut saya.
Lalu apa cita-cita saya? jawabannya banyak. Kalau dihitung dari saya TK sampai sekarang sudah berkerja, cita-cita saya lebih dari selusin tentunya saya punya alasan waktu itu.
Ini cita-cita saya dari dulu sampai sekarang:
  1.  Saat TK cita-cita saya jadi Polisi. Alasannya kalau nanti saya punya anak, anak saya akan ditakuti teman-temannya, seperti seorang teman saya yang bapaknya seorang Polisi. Begitulah pemikiran saya saat TK.
  2. Beranjak SD cita-cita saya berubah. Saya ingin jadi seorang Insinyur Pertanian karena ayah saya bekerja di Dinas Pertanian dan Perkebunan. Seiring berjalan waktu cita-cita saya kandas karena gelar Insinyur Pertanian tidak ada lagi ditukar dengan Sarjana Pertanian, walaupun pada dasarnya sama, saya tetap ngotot untuk merubah cita-cita saya.
  3. Saya juga pernah bercita-cita menjadi pemain bola. Ini terjadi saat saya SMP. Tidak ada alasan untuk cita-cita saya ini, semata karena hobi saya bermain bola waktu itu, jadi saya ingin jadi pemain bola profesional. Cita-cita saya kembali berubah karena saya tidak terpilih menjadi tim sekolah disebabkan badan saya yang tergolong kecil. Di masa ini saya paling sering berganti cita-cita, mulai dari guru, dokter, pilot, dan banyak lagi.
  4. Masa SMA adalah masa yang paling indah, begitu kata orang-orang, tapi tidak untuk cita-cita saya. Zaman SMA saya tidak punya cita-cita (profesi yang diinginkan). Saya hanya ingin melanjutkan kuliah di kampus-kampus favorit di negeri ini, walaupun sepertinya mustahil dengan kemampuan akademik saya yang pas-pas-an..hehehe... jadilah saya pria tanpa cita-cita ketika SMA.
  5. Selepas SMA saya melanjutkan kuliah di Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang. Di sini saya menemukan cita-cita baru, saya ingin jadi penulis, cerpenis, novelis, dan yang sejenis. Angan-angan saya sungguh jauh dengan cita-cita ini. Saaya berangan-angan novel saya menjadi novel bestseller lalu difilm kan. Dan saya otomatis menjadi kaya raya.hehehe..Bermimpi memang enak kawan.
  6. Sekarang, saya bekerja sebagai abdi negara di perguruan tinggi tempat saya kuliah dulu. Meski sekarang saya sudah memiliki penghasilan yang cukup, cita-cita saya sebagai penulis masih menjadi impian sampai sekarang dan harus saya wujudkan.
Begitulah perjalanan cita-cita saya dari dulu hingga sekarang. Tidak tertutup kemungkinan cita-cita itu akan berubah lagi.
Ada sebuah cita-cita saya yang belum tercapai, yaitu masuk surga. Cita-cita yang harus mewajibkan saya mati dulu.

Selama perjalanan hidup saya, hanya satu yang tidak pernah saya cita-citakan, yaitu menjadi POLWAN dan BIDAN. Kawan-kawan pasti tau alasannya.