Minggu, 20 Juli 2008

Ngejer Polantas


Sabtu sore, kami terbebas dari keangkaramurkaan, terbebas dari neraka dunia, dari siksaan yang mendera tubuh, jiwa dan mental kami. Untung aja, setelah melewati semua itu kami ga menderita gangguan kejiwaan. Ya, siksaan yang sangat menyakitkan, bahkan tidak pantas diterima anak di bawah umur seperti kami yang penuh dengan kepolosan dan keluguan.

Readers, ini cerita saat pulang sama Yudi setelah hari terakhir ujian selesai. Ceritanya begini.......

Dari kampus, kami langsung ke kost-annya deby, biasalah untuk memnuhi kebutuhan kami, saling ejek dan saling menghina serta saling mencaci- maki. Haripun beranjak sore, mentari tampak malas mengeluarkan sinarnya, meredup, bejalan ke barat, lalu hilang di
ufuk barat. Kami tercengang, dan Yudi dan Tiko berdialog,
Yudi: ko, udah gelap ya????
Tiko: iya Yudi, ga terasa kebersamaan kita sampai disini, malam telah memisahkan kita.
Yudi: Tiko..... jangan pesimis gitu donk, masih ada hari esok untuk kita. Percaya deh..... Yudi ga akan kemana- mana.
Tiko: Makasih ya Yudi, Yudi pulangnya sama siapa?
Yudi: Sama Angga.....
Tiko: Yudi jangan selingkuh ya....
Yudi: ya Tiko, Tiko ati2 ya pulangnya... bye...

Lalu aku dan Yudi naik motor, aku yang bawa motor. Tapi satu masalah muncul disini, helm cuma satu........
Yudi berkata," ya udah, kita pake satu helm ja (yang pastinya pake bahasa palembang)."
Dengan penuh percaya diri, kamipun meluncur dengan motor yudi, yang pastinya lagi sambil ketawa cekikikan, ga tau apa yang lucu, mungkin karena ketawa adalah hobi kami dari dulu. Kata orang ketawa itu kan sehat.

Sampailah kami di depan RS Siti Khadijah, yang di depannya banyak orang jual makanan, ada batagor, siomay, mie ayam, martabak, berbagai macam bentuk gorengan, mulai dari bentuk panda, hitler, barbie, mobil- mobilan, dan banyak lagi...

Mendekati simpang polda, kami mulai merasa khawatir ketemu sama polisi, takut di tilang. Kalo ada duit ga masalah kalo ditilang, bisa damai ( duh bangsa ini....).
Untuk menghindari polisi, kami belok ke arah KM 12, dan ada kejutan yang tak asing lagi di kota palembang, MACET.....

5 menit kemudian, macetpun usai.
Kami melanjutkan perjalanan, masih dengan rasa khawatir, Yudi celingak- celinguk nyari polisi dan berkata, " Aman......, jalan cepet!!!!!" Akupun tancap gas, tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, ada polisi lagi naek motor dengan super pelan di depan kami, dengan sangat terpaksa kecepatan kami turunkan.

Sambil memutar otak, kami sembunyi di belakang bus kota yang sopirnya punya SIM tapi SIMnya nembak. Akhirnya wahyu datang juga, kami belok kanan dan lewat Di depan Muhammdiyah 1 Balayuda. Ketika belok, bapak polisi yang terhormat sempat liat kami yang ga pake helm. Tapi karena bapak polisi baru bisa bawa motor, jadi ga berani ngejar kami, mungkin takut jatuh.

Dan akhirnya kami selamat dari marabahaya yang mengancam keselamatan jiwa dan raga kami, kami pun pergi, dan hidup bahagia selamanya.