Rabu, 03 Februari 2016

Di Sebuah Tempat, Enam kali Enam

"Heii...Ini sudah hampir dua bulan lho..."
"Apa nanti perlu ucapan, selamat dua bulan sayang??? hahahaa"

Rasa-rasanya bingung memilih kata yang tepat untuk memulai tulisan ini, tulisan tentang sebuah hidup yang baru, hidup yang saya impikan. Hidup dengan pendamping yang ketika bertemu dengannya memacu diri untuk menjadi lebih baik, ketika berjauhan selalu ada rasa rindu yang usil. Haaacchhiimmmmm.....
Hari-hari yang dilewati dua bulan terakhir menyajikan lebih banyak warna dari bulan-bulan sebelumnya. Waktu-waktu yang dijalani memberikan lebih banyak pelajaran dari waktu-waktu yang dilewati ketika sendiri. Ah, pokoknya banyak warna...

Berawal dari sebuah tempat berukuran enam kali enam. Kita belajar merasakan sebuah "rasa" yang kau bilang sebenarnya belum pernah ada, rasa yang kau bilang akan dicoba menumbuhkannya. Lalu perlahan kita belajar, mencoba, dan sekarang kita sama-sama paham, Allah lah yang memiliki hati, selanjutnya kita takjub ketika merasa sama-sama tenang saat bertemu dan merindu ketika jauh, padahal kau dan aku awalnya merasa asing. Allah memang Maha Hebat ya...

Kejadian-kejadian yang dilalui akan menjadi pelajaran dalam proses pendewasaan. Ternyata benar, menikah adalah belajar, belajar sabar saat kunci rumah hilang, belajar sabar saat ada yang salah ngomong, belajar sabar saat tersinggung, belajar ngga mandi saat air ledeng mati, dan masih banyak belajar-belajar lain yang harus dilewati biar nanti pas ujian, nilainya bagus, dan ngga remedi. Oh ya satu lagi, belajar makan banyak biar gemuk. Proses belajar ini terjadi di tempat berukuran enam kali enam yang kita tempati. Bangunan kecil ini sekarang hampir penuh, disitu ada pakaian, ada buku-buku, ada jemuran, ada kompor, ada lemari, ada kasur, ada motor, ada gentong, dan ada kardus-kardus bekas, dan ada satu lagi, ada tikar baru dengan gamabr Masha and the bear. Meskipun tempat berukuran enam kali enam itu hampir penuh oleh barang-barang, semoga hati kita tetap lapang dan dilapangkan untuk menampung marah, ego dan airmata.

Enam kali enam, sama dengan tiga puluh enam. Dindingnya biru, beberapa perabotan berwarna biru, gentong di kamar mandi juga biru dan ada juga sendok yang berwarna biru, hati kita juga biruuuuuu...halaaahhh. Di tempat enam kali enam yang biru itu, kita bukan hanya belajar tentang sikap dan kedewasaan, kita (saya) juga belajar ngaduk semen, yang selama ini belum pernah saya lakukan.

Terlepas dari pelajaran-pelajaran yang saya dan kita pelajari dalam dua bulan ini, menurut saya menikah itu seperti dalam sebuah organisasi, sekarang anggota organisasinya cuma dua, kita berdua. Dalam organisasi, ada pembagian tugas yang jelas atau satu pekerjaan dilakukan bareng-bareng dan kita punya peran masing-masing.  Contohnya: Saat ada yang masak, harus ada juga yang makan biar ngga mubazir.... Ini contoh...hanya contoh...

Untuk hari ini udah aja dulu...galon belum diisi.....
Maaf ya, ini rada ngga jelas...

Palembang, 03 Februari 2016 (Masih di kantor, tapi pengen pulang)








Senin, 02 November 2015

Malam yang dulu-dulu

Magrib tertunai sudah. Siluet senja yang tadi kita nikmati dalam rindu telah beradu di ufuk langit. Maklum saja, kemarin-kemarin tidak ada senja yang menarik buat mata. Gelap merangkat naik.

Malam ini hampir seperti malam yang dulu-dulu, meski malam indah kita belum utuh, sebagian masih hilang karena cengkeram jiwa-jiwa lapar nan rakus. Ah segeralah datang malam indah yang dulu-dulu, malam yang bulannya tidak lagi merah, yang udaranya tidak lagi membuat sesak.

Malam ini belum purnama, tapi bau hujan yang dibawa angin meniupkan harapan tentang purnama yang begitu bulat. Purnama yang tidak lagi tertutup tangan-tangan hitam.

Kita semua menyimpan buncah rindu pada malam yang dulu-dulu, yang kita semua bisa bebas menikmati malam tanpa ancaman ketakutan, menikmati malam tanpa asap.

Magrib telah berlalu. Doa-doa naik ke langit, menyibak sisa asap hasil keserakahan segelintir insan yang entah siapa dan entah dimana.

Teruslah naik. Adukan kepada Tuhan. Biarlah pemilik keadilan yang menghukum keserakahan. Kita disini, cukup menikmati malam yang akan datang, seperti malam yang dulu-dulu, di dalam syukur, di dalam harap, semoga malam-malam indah kita, tidak lagi berganti.

Jumat, 30 Oktober 2015

Kau rindu, aku pun rindu



Kau rindu, aku pun rindu.
Tiga purnama rindu membuncah, menguap naik ke langit.
Di batas pandang ia berubah menjadi pinta.
Lalu setiap hari kita tengadah, menunggu jawaban.

Dan rindu kita hari ini dijawab.
Masihkan besok kita tengadah ke langit?
Itu saja.

(Palembang, hujan sudah turun, tanggal tiga puluh bulan sepuluh )

Senin, 19 Oktober 2015

Candu Gadget



Di dalam kereta, di dalam bus kota, di stasiun, di terminal, di pelabuhan, di bandara, di rumah, di kamar, di ruang tamu, di dapur, di WC…dimana lagi? Coba sebutkan nama tempat di sekeliling kita. Hampir di seluruh tempat itu, orang-orang yang sedang berada di tempat itu adalah orang yang sedang menunduk, berdiri sambil menunduk, duduk sambil menunduk, jongkok sambil menunduk. Bahkan ada yang lebih spektakuler, di mesjid ketika khatib sedang berkhutbah, ada yang sedang menunduk, dan bukan tidur.

Ini karena kemajuan. Kemajuan teknologi komunikasi tapi kemunduran cara berkomunikasi. Ini sih menurut saya, hanya pendapat. Sama seperti saya bilang, durian itu kurang enak, atau partai ini bagus dan partai itu tidak. Ini hanya pandangan. Pandangan saya pribadi terhadap “generasi menunduk”. Kalau banyak yang setuju dengan pandangan saya, mungkin nanti kita bisa bikin partai, nantiiiii….. tapi kalau banyak yang tidak setuju, kita tidak jadi bikin partai.

Kembali lagi ke generasi menunduk, kali ini tidak usah pakai tanda kutip, mungkin sudah paham maksudnya, menunduk karena sibuk dengan gadget, smartphone salah satunya. Belakangan ini, produsen smartphone berlomba-lomba meluncurkan varian baru dengan fitur lengkap, tentunya dengan harga murah agar bisa dijangkau oleh semua tingkatan ekonomi konsumen. Berbagai macam merek masuk dengan mulus di Indonesia, dengan berbagai fitur canggih, memungkin semua hal bisa dilakukan dengan smartphone yang ada digenggaman. Transfer uang yang dulu hanya bisa dilakukan ke bank atau ke ATM, sekarang bisa dilakukan sambil menggiling cabe di dapur. Membaca Al-Qur’an yang dulunya hanya bisa di lakukan dengan mushaf sekarang fiturnya telah tersedia di smartphone, memesan tiket hotel, tiket pesawat, tiket kereta api, tiket bioskop, semua menjadi mudah kala smartphone ada di genggaman. Untuk melakukan komunikasi dan berkirim kabar dengan sanak saudara yang terpisah jarak dengan gampang bisa dilakukan. Berbeda dengan dulu, ketika gadget belum familiar. Mengirim pesan duka atau bahagia saja membutuhkan waktu lama, sehingga momentumnya tidak lagi hangat ketika berita itu sampai. Ketika gadget menjamur, pernikahan yang dilakukan di Indonesia hari ini, rasa bahagianya bisa langsung dirasakan hari ini juga oleh orang yang sedang camping di kutub utara sekalipun. Untuk apa orang itu camping di kutub utara????

Gadget, sebagai salah satu bentuk kemajuan teknologi memberikan banyak bantuan dan kemudahan bagi pemakainya. Mungkin itu tujuan awal pengembangannya. Seiring berjalan waktu, inovasi-inovasi baru pun muncul, yang pada awalnya menghadirkan euforia karena ketakjuban ditemukannya formula-formula yang lebih canggih, namun tanpa disadari –oleh produsen juga konsumen telah menggeser tujuan awal pengembangan teknologi. Saking banyaknya temuan-temuan baru, gadget kita dipenuhi oleh fitur-fitur yang mengasyikkan dan menghabiskan waktu, lalu perlahan fokus menjadi berubah, yang pada akhirnya tidak lagi peduli pada lingkungan sosial karena gadget telah menyuguhkan “lingkungan sosial” baru, lingkungan yang akhirnya menjauhkan si pemakai gadget dengan lingkungan yang sebenarnya. Pada awalnya memang sanak saudara yang jauh jadi terasa dekat, tanpa disadari yang dekat akan terasa jauh karena fokus yang terlalu dalam membuat tidak lagi peduli pada sekitar.
Fenomena candu gadget ini –menurut saya, sangat besar pengaruhnya terhadap aktifitas sehari-hari. Saking candunya, hidup akan terasa ada yang kurang jika tidak menyentuh layar gadget sehari saja. Sesuai dengan pengalaman saya pribadi, gadget sangat mempengaruhi hidup, tanpa kita sadar bisa mengubah kebiasaan. Biasanya setelah shalat, yang dilakukan itu dzikir dan berdoa, mulai berubah dengan BBM masuk atau cek mention dulu, baru berdo’a. Konsentrasi tilawah pun juga sering terganggu ketika smartphone berbunyi. Nah, itu alasan kenapa akhir-akhir ini paket internet smartphone saya tidak aktif. Bukan karena bokek tapi karena saya ingin “kembali normal” lagi. Semoga alasan ini membuat saya keren…hahahaha (Tertawa diiringi mata licik peran antagonis sinetron Indo**ar).

Jumat, 16 Oktober 2015

Alangkah Rindunya Kita…


Alangkah rindunya kita pada suatu waktu ketika keadilan bukan hanya sekedar slogan-slogan semu berisi janji-janji kosong.
 
Alangkah rindunya kita pada suatu masa ketika seorang pemimpin berkata “Biar aku yang memikulnya, apakah kau sanggup memikul dosaku di akhirat kelak?”

Alangkah rindunya kita ketika pemimpin dielu-elukan bukan karena statusnya sebagai pemimpin, tetapi sanjungan karena tak lagi ada kekerasan karena sebungkus nasi.

Kita benar-benar rindu ketika orang-orang di atas sana bukan berkata, “Aku yang harusnya memimpin.” Tetapi “Amanah ini sungguh berat bagiku, apakah kalian mau menjerumuskan aku?”

Betapa rindunya kita…
Ketika wajah-wajah pemimpin tidak tampak di pinggir-pinggir jalan, tetapi melekat erat di hati yang dipimpin.

Tidakkah kita rindu kepada kelapangan hati Hasan Bin Ali yang menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada sahabat ayahnya Muawiyah demi kenyamanan hidup kaum muslimin dan agar tidak lagi ada peperangan. Sehingga sejarah mencatatnya sebagai Tahun Persatuan.
Alangkah rindunya kita…

*Palembang, 3 Muharram 1437 H, dalam kerinduan.

Kamis, 17 September 2015

Ini tentang jodoh, eh rahasia, eh bukan.entahlah.

"Tidak disangka, ternyata kami berjodoh, padahal pas temenan ga punya rasa apa-apa"

"Baru kenal satu bulan, kami ngerasa klop, lalu nikah. Luar biasa kan"

Kalimat-kalimat diatas hanya sedikit contoh ungkapan orang-orang yang merasa mendapat surprise ketika berjumpa dengan jodoh mereka. Pastinya masih banyak kalimat-kalimat yang menunjukkan decak kagum dan ketidakpercayaan tentang misteri hidup yang satu ini, rahasia yang selalu menimbulkan pertanyaan di hati para jomblo.hehehe

Kalimat-kalimat diatas biasa saya dengar dari teman-teman yang baru menikah, lalu dengan antusias menceritakan pertemuan mereka dengan mata berbinar, penuh semangat, acapkali mereka bercerita sampai berkeringat dan haus. Begitulah, pembicaraan tentang rahasia pertemuan dengan belahan jiwa akan selalu menjadi topik yang menarik, tidak sedikit cerita-cerita itu diangkat menjadi sebuah novel, lalu menjadi film yang menghiasi layar bioskop tanah air. Tentunya dengan tambahan sedikit bumbu biar manis asam asin-nya lebih ngena di hati.

Kembali ke "jodoh". Jodoh itu salah satu rahasia besar Yang Maha Tunggal, sama seperti terahasiakannya kematian dan sebabnya, sama seperti tabir misteri rezeki dan pintunya. Bertemu jodoh, juga mempunyai sebab, layaknya kejadian-kejadian lain yang juga memiliki sebab. Tapi harus dipahami, sebab-sebab itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa dan sudah tertulis jelas di lauhul mahfuz. Hanya saja karena rahasianya begitu terjaga, kita lah yang menghubung-hubungkan surprise yang kita terima dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Nah, disitulah indahnya, disitulah gregetnya. Hehe

Ada sebuah kisah tentang jodoh yang baru saya sadari akhir-akhir ini. Tentang pertemuan orang tua saya, tapi saya tidak akan menceritakan romantisme pertemuan mereka di jaman dulu. Saya akan mengupasnya dengan logika saya sebagai manusia. Ok saya mulai. Ayah saya menjalani masa sekolah di kota Palembang, dari kecil sampai SMA, dan mama saya dibesarkan di sebuah desa kecil di bawah bukit di Sumatera Barat. Kalau dilihat dari segi geografis, daerah tempat orangtua saya tumbuh, mereka tidak akan pernah bertemu. Lalu jika ditelaah dari sisi silsilah, ayah saya, bapak ayah saya, kakek ayah saya, bapak kakeknya ayah saya, lalu kakek kakeknya ayah saya tidak ada hubungan dengan siapapun di desa kecil di bawah bukit tadi, berkunjungpun tidak pernah, mungkin juga tidak pernah tahu ada kehidupan di bawah bukit itu. Walaupun secara logika manusia mereka tidak akan bertemu, toh akhirnya saya ada di muka bumi. Seperti kata ustad Salim A Fillah, jiwa-jiwa mempunyai kode masing-masing, layaknya tentara di sebuah pasukan, dipisahkan sejauh apapun, dibatasi dinding setinggi gunungpun, jika jiwa-jiwa itu saling memahami kode sandi yang diberikan, mereka akan bertemu dan berkumpul. Bagaimana cara dan dimana tempat pertemuan, itu juga akan jadi bagian indahnya sebuah rahasia. Seperti Adam a.s yang tidak pernah tahu akan kembali berkasih sayang dengan Hawa di Jabal Rahmah.

Tulisan ini sebenarnya tidak berniat mengangkat romantisme bertemu jodoh atau mencoba menggali rahasia semesta. Tulisan ini hanya sebagai stimulan untuk kembali sadar, lalu instrospeksi, dan kembali percaya dengan sungguh-sungguh kalau semuanya sudah diatur. Afa yang segera dibukakan tabir, dan ada yang tetap menjadi sangat indah ketika masih samar-samar, bertambah indah bila terungkap di waktu dan tempat yang tepat.

Jika semua rahasia masa depan bisa kita ketahui, tidak akan ada lagi kata perjuangan. Seperti tokoh kartun Nobita, tidak lagi memiliki tantangan untuk jatuh cinta diam-diam pada Shizuka karena Standby me sudah membuka rahasia masa depannya bersama Shizuka. Kasihan Nobita, udah dapat nilai 0 melulu, greget hidupnya pun hilang, ga ada degup-degupnya lagi kalau ketemu Shizuka. Hahahaa

Biarlah yang seharusnya jadi rahasia, tetap menjadi rahasia sampai waktu menyibak penghalangnya, seperti kamu.iyaaaa kamuuu....